Di dalam aula utama Sekte Api Langit, suasana terasa hening dan penuh wibawa. Langkah kaki Lynx terdengar pelan saat ia melangkah masuk, pandangannya segera tertuju pada seorang lelaki tua yang duduk di kursi besar di atas mimbar. Jubah merah menyala membalut tubuh kurus itu, kontras dengan rambut dan janggutnya yang sepenuhnya putih. Usianya terlihat lebih lanjut dibanding terakhir kali Lynx melihatnya. Di sisi lelaki tua itu berdiri beberapa tetua sekte, termasuk sosok yang familiar, Tetua Luan Yun, salah satu tetua perempuan yang telah mencapai tingkat Grandmaster Langit.

Deng Wei melangkah maju dan membungkuk dengan hormat, suaranya terdengar tenang meski hatinya masih berdegup tak karuan.

"Leluhur, murid telah mengantar Saudara Xiao Ling."

Dalam hatinya masih mengendap kecemasan yang belum sirna. Ia khawatir jika sang Leluhur mengetahui insiden sebelumnya dan menjatuhkan hukuman. Namun kekhawatiran itu perlahan surut ketika sang Leluhur tidak menunjukkan amarah sedikit pun. Sebaliknya, wajahnya justru terlihat berseri-seri saat menatap Xiao Ling.

Melihat reaksi itu, Deng Wei segera memberi hormat lagi dan mundur perlahan, napasnya terhela lega. Ia keluar dari ruangan dengan segunung rasa penasaran. Apa sebenarnya hubungan antara Leluhur Sekte dan sosok misterius bernama Xiao Ling itu?

Setelah Deng Wei pergi, Leluhur memandangi Lynx dengan penuh perhatian. Matanya yang penuh pengalaman langsung tertuju pada sosok di samping Lynx.

"Akhirnya kau datang juga, anak muda. Bagaimana keadaan Ling Mei? Dan… siapa wanita ini?" tanyanya sambil mengerutkan alis. Meski nada bicaranya lembut, sorot matanya tajam menelisik.

Tatapannya tak bisa lepas dari Rira. Meski terlihat tenang, Leluhur bisa merasakan ada sesuatu yang tersembunyi dari wanita itu. Ia mencoba menyelami tingkat kultivasinya, namun tidak menemukan apapun. Seolah-olah ranah kekuatan wanita itu tersembunyi sepenuhnya dari indranya. Ia menduga Rira menggunakan artefak pelindung, tapi tidak sembarang artefak bisa mengelabui mata seorang kultivator immortal sepertinya.

Lynx membungkuk dalam-dalam, sikapnya penuh hormat namun tetap tenang.

"Salam hormat, Leluhur, juga para Tetua. Nona Ling Mei dalam keadaan baik. Saat ini ia sedang memusatkan diri untuk memperkuat fondasi kultivasinya. Adapun wanita ini adalah Rira, salah satu rekan kami."

Leluhur mengulang nama itu pelan, seperti mencernanya.

"Rira…"

Nada suaranya terdengar ganjil. Nama yang terdengar tidak biasa di benua Tianzhou, namun entah mengapa terasa sedikit menggangu. Ia tidak bertanya lebih lanjut dan hanya mengelus janggutnya pelan. Wajahnya menegang sedikit, lalu ia menoleh ke arah para tetua yang berdiri mendampingi.

Dengan isyarat tangan yang tenang namun tegas, Leluhur memerintahkan para tetua untuk meninggalkan aula. Meskipun tampak enggan dan diliputi rasa ingin tahu, tak satu pun dari mereka berani membantah. Dalam diam, mereka memberi hormat dan meninggalkan ruangan.

Begitu pintu tertutup sepenuhnya, Lynx segera bergerak. Dengan cepat, ia mengatur formasi isolasi suara, memastikan pembicaraan mereka tidak bisa disadap atau terdengar dari luar.

"Maafkan saya bila terlihat lancang, Leluhur. Saya hanya ingin memastikan bahwa tidak ada satu pun orang lain yang mendengar pembicaraan ini," ujar Lynx sambil menatap Leluhur dengan mata tajam dan suara tenang.

Sang Leluhur tersenyum tipis dan mengangguk.

"Tidak perlu khawatir. Aku mengerti kehati-hatianmu. Tidak masalah." Ia bersandar sejenak lalu melanjutkan. "Bagaimana sambutan para murid tadi? Itu karena mereka tidak tahu siapa dirimu. Aku yakin mereka pasti terkejut jika tahu Plasura yang mereka bicarakan selama ini adalah kamu."

Lynx mengangguk pelan, ekspresinya tetap tenang karena kejadian barusan tidak terlalu dia pikirkan.

"Mereka hanya mencoba melindungi nama sekte, aku bisa memahaminya."

Ia sudah menduga sejak awal bahwa seluruh pergerakannya pasti telah diawasi. Kunjungannya ke Sekte Api Langit tentu tidak luput dari perhatian sang Leluhur, dan laporan kedatangannya pasti sudah lebih dulu dikirimkan.

Senyum Leluhur memudar perlahan, berganti dengan raut serius yang menunjukkan beban yang ia pikul.

"Aku yakin kau datang bukan hanya untuk mengunjungi seorang pria tua sepertiku. Aku bisa melihatnya dari sorot matamu. Kau gelisah. Katakan padaku, apakah kedatanganmu ada kaitannya dengan kunci dimensi?"

Lynx mengerutkan kening. Pertanyaan itu membuatnya sedikit terkejut.

"Kunci Dimensi? Maksud Leluhur?"

Leluhur menghela napas dalam, suara beratnya seolah menekan ruangan.

"Aku sudah memerintahkan Guru Yuan untuk menemui dan memberitahumu di Kota Zhurong. Tapi melihat ekpresimu, sepertinya kau belum bertemu dengannya. Kunci dimensi, benda yang selalu dijaga selama ratusan tahun oleh sekte kami... telah dicuri dari ruang penyimpanan khusus. Hanya orang-orang yang pernah menjadi ketua Sekte yang mengetahui lokasi ruangan tersebut dan untuk membukanya hanya bisa menggunakan kunci. Siapa pun yang mengambilnya, pasti juga orang yang membunuh anakku."

Tubuh Lynx menegang. Ia mencoba menyusun potongan-potongan informasi yang mulai memenuhi benaknya. "Guru Yuan… Bukankah dia wanita Grandmaster Bumi yang dulu menolak dan melarangku memasuki sekte, bahkan mengusirku? Tapi berkat dia juga, aku jadi bisa tahu Ling Mei dalam bahaya…"

Ia menghela napas pelan, berusaha menenangkan gejolak pikirannya yang mulai terbakar oleh kecurigaan dan kemarahan. Matanya menyipit, nada suaranya turun, namun tegang.

"Jadi ada seseorang... yang sengaja menuduhku sebagai pembunuh Ketua Sekte. Dia memanfaatkan kekacauan itu untuk mencuri kunci... Tapi siapa? Siapa yang cukup cerdik dan kejam untuk menyusun semua ini? Mungkinkah dia…"

Lynx tak melanjutkan. Kepalanya sedikit tertunduk, lalu ia mengangkat wajahnya kembali, menatap Leluhur dengan hormat. Ia membungkukkan tubuhnya dalam gestur sopan yang tulus.

"Maafkan saya, Leluhur. Saya baru saja kembali dari perjalanan yang sangat jauh. Itu sebabnya saya belum ada kesempatan bertemu dengan Guru Yuan. Jika tidak keberatan, bisakah Anda menceritakan lebih lanjut mengenai Kunci Dimensi itu?"

Suara Lynx terdengar sungguh-sungguh. Dalam hatinya, ia sadar bahwa ini mungkin berkaitan dengan ruang dimensi di kerjaan Jinghai tempat rekan-rekannya terperangkap. Semua yang ia alami mulai terasa terhubung, dari pembunuhan ketua Sekte Api Langit, artefak rusak yang dia temukan dan alasan kenapa rekan-rekannya bisa berada di ruang dimensi kerajaan Jinghai.

"Apa kau pernah mendengar mengenai Senjata Iblis?" tanya Leluhur tiba-tiba, nadanya dalam dan berat, seolah menyelidik langsung ke dalam jiwa Lynx.

Lynx mengangguk pelan, ekspresinya berubah serius. "Saya mengetahuinya, bukankah fragmen ini yang menjadi usulan di pertandingan kerajaan untuk menjadi hadiah dan menjadi rebutan Kerajaan-kerajaan lainnya."

"Bagus. Setidaknya aku tak perlu mengulang sejarah panjang tentang senjata itu," ujar Leluhur sambil menghela napas. "Orang-orang dari kerajaan lain dan para kultivator berpikir tiga fragmen senjata iblis masih aman di wilayah kerajaan kita. Namun sesungguhnya, kita sudah kehilangan ketiga senjata fragment yang tersimpan di kerajaan Qingyuan ini, dan satu fragment di kerajaan Lingzhao juga sudah lama di rebut oleh seseorang. Berita ini dirahasiakan, hanya beberapa orang yang mengetahui, dan kini yang tersisa hanya di kerajaan Jinghai.

Leluhur berhenti sejenak, memperhatikan perubahan ekpresi di wajah Lynx, lalu melanjutkan," Dari kelima pecahan Senjata Iblis yang ada, salah satunya di simpan di kerajaan Jinghai, di salah satu ruang dimensi. Untuk bisa mengakses lokasi fragment tersebut di segel, harus menggunakan kunci  khusus, dan sekte kami memegang kunci dimensi tersebut untuk pertahanan terakhir. Namun kini, kunci dimensi tersebut sudah hilang dan aku yakin target mereka berikutnya adalah pergi ke kerajaan Jinghai mengambil fragmen senjata iblis tersebut."

Ia berhenti sejenak, matanya menatap lurus ke arah Lynx, seolah ingin memastikan bahwa kata-katanya benar-benar tertanam dalam pikiran pemuda itu.

"Leluhur, apakah anda yakin kunci tersebut hilang? Bukankah anda baru kembali ke sekte?" tanya Lynx dengan penasaran.

"AKu sangat yakin. Beberapa hari yang lalu, saat aku hendak memeriksa ruang rahasia tempat kunci itu berada, sesuatu yang aneh terjadi. Ruangan yang seharusnya hanya bisa dibuka oleh Ketua Sekte dari generasi ke generasi, dan bisa dibuka kunci khusus yang selalu di bawa ketua Sekte ternyata sudah pernah di buka seseorang dan dia menutupnya lagi. Saat aku masuk ke sana…" suaranya merendah, matanya sedikit memerah, "kunci itu telah hilang."

